Gus Dur Sang Guru Bangsa

December 31st, 2009 · 7:14 am @ YPMN  - 
Gus Dur

Gus Dur

Gus Dur meninggal dunia pada Rabu, 30 Des 2009 pukul 18.45 WIB di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo setelah sempat mendapat perawatan selama beberapa hari. Kondisi kesehatan Gus Dur menurun ketika berziarah ke makam Ibu Nyai Fatah di Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang.

Wafatnya Gus Dur diakui Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sangat mengejutkan. “Pertama saya dengar (wafat) dari ajudan beliau. Mengejutkan sekali karena berita terkahir melalui telepon keadaan beliau sempat membaik, lalu siang tadi mendadak kritis sebelumnya akirnya wafat,” katanya.


“Saya mendahului keluarga untuk mengimbau agar seluruh warga NU di seluruh Indonesia dan dunia agar melakukan doa, tahlil, dan salat gaib,” katanya usai melepas kepergian Gus Dur di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Rabu (30/12/2009).

Mengenai sosok Gus Dur, Hasyim melihat sosok mantan presiden RI ke-4 itu sebagai tokoh besar yang belum ada penggantinya. “Beliau adalah tokoh besar yang belum ada tokoh besar NU sebesar dia,” kata Hasyim.


Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan duka atas meninggalnya mantan presiden Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Menurutnya kepergian Gus Dur adalah kehilangan besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Din mengatakan selama hidupnya Gus Dur telah menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa bagi bangsa Indonesia. Walaupun Gus Dur sering bersikap kontroversial, lanjut Din, tetapi banyak pula idenya yang bermanfaat terutama pengembangan atas perlunya kemajemukan dan penguatan demokrasi.

“Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dan tokoh bangsa, maka akan segera tergantikan dengan munculnya tokoh-tokoh lain, khususnya di kalangan umat Islam,” demikian Din Syamsuddin.

Gus Dur putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari. Sedangkan ibunya bernama Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri. Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Mengenang Perjalanan Hidup Gus Dur

Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang sering dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang banyak mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Cucu ulama besar KH Hasyim Asy’ari tersebut pernah menjabat Ketua Nahdlatul Ulama. Gus Dur pula yang mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB pada era reformasi.

Perjalanan hidupnya dimulai di Jombang, Jawa Timur, tempat ia lahir pada 4 Agustus 1940. Ia menjalani pendidikan sekolah dasar di Jakarta sejak tahun 1953 dan melanjutkan ke SMEP di Yogyakarta tahun 1956. Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo dan Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak, pada tahun 1970 tetapi tak sempat menyelesaikan.

Selepas itu, Gus Dur berkarier menjadi guru dan dosen selama bertahun-tahun. Gus Dur menjadi Guru Madrasah Mu’allimat, Jombang (1959 – 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), dan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974).

Gus Dur juga aktif di pesantren menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974-1979) dan menjadi konsultan di berbagai lembaga dan departemen pemerintahan pada tahun 1976. Selanjutnya, Gus Dur menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta, sejak tahun 1976 hingga sekarang.

Di organisasi Nahdlatul Ulama, Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama tahun 1979-1984. Ia juga menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk tiga periode. Masing-masing 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999.

Sementara itu di bidang pemerintahan, Gus Dur pernah duduk, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Ia menjadi anggota MPR dari utusan golongan selama dua periode. Masing-masing periode 1987-1992 dan 1999-2004. Karier politik tertingginya adalah menjadi Presiden RI selama 2 tahun pada 1999-2001.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh kerukunan umat beragama, bahkan cukup kontroversial karena menjadi anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, yang dibentuk di Universitas Al Kala, Spanyol, serta Pendiri Forum 2000 (organisisasi yang mementingkan hubungan antaragama). Ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian atau World Conference on Religion and Peace (WCRP), Italia, tahun 1994.

Gus Dur juga pernah menjadi Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 1983-1985. Meski mengalami penurunan kemampuan melihat, Gus Dur dikenal masih suka membaca melalui suido book bahkan sampai menjelang akhir hayatnya. Ia juga dikenal produktif menulis artikel dan buku.

Gus Dur juga banyak mendapat penghargaan, seperti gelar doktor honoris causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir, Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Ramon Magsaysay, Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie, gelar doktor honoris causa bidang perdamaian dari Soka University Jepang (2000), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations New York (2003), World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC) Seoul Korea Selatan (2003), Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement (2003), penghargaan dari Simon Wiethemtal Center Amerika Serikat (2008), penghargaan dari Mebal Valor Amerika Serikat (2008), penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study (2008).

Mari kita doakan agar beliau mendapat khusnul khotimah dan bangsa ini mewariskan kebaikan yang dimilikinya. “Maha suci Zat Yang Hidup yang tidak akan mati. Ya Allah, ampunilah dia dan sayangilah dia, dan temanilah dia di dalam kesendirian dan keasingannya di dalam liang lahat, dan terangilahkuburnya.” Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

Sumber:

Kompas.com
Okezone.com

Tags: , , ,

Komentar ditutup.