Perkenalkan, Gunungsitoli Kota SAMAERI

October 29th, 2009 · 7:06 am @ YPMN  - 

Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd, M.Si.
Plt Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Gunungsitoli

Gunungsitoli merupakan kota tertua dan terbesar yang ada di Kepulauan Nias. Setelah ditingkatkan statusnya dari Kecamatan menjadi kota otonom, popularitas kota yang dibentuk berdasarkan Undang Undang Nomor 47 Tahun 2008 ini semakin melejit. Tak hanya pada tataran lokal atau regional. Bahkan, di tingkat internasional, Kota Gunungsitoli banyak menjadi bahasan diskusi.

Tanggal 25 Mei 2009, Kota Gungsitoli resmi dinakhodai Drs. Martinus Lase, MSP, sebagai Penjabat Wali Kota. Dia dilantik Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di Jakarta bersama dua daerah otonom baru lainnya di Kepulauan Nias yakni, Kabupaten Nias Utara dan Kabupaten Nias Barat.

Sejak saat itu pula, perlahan namun pasti, geliat Kota Gunungsitoli sebagai pintu gerbang Kepulauan Nias semakin dirasakan. Ibaratnya, ada idealisme dan semangat baru menuju arah kemajuan.

Berdasarkan catatan sejarah, Gunungsitoli atau sering disebut Luaha sudah dikenal dan dikunjungi sejak abad ke 18. Posisi kota Luaha ini terletak pada muara sungai Nou atau pasar Gunungsitoli saat ini. Pada saat itu ada tiga marga dominan yang menghuni kota Luaha, yaitu Harefa, Zebua, dan Telaumbanua atau lebih dikenal dengan sitolu tua.

Belum diketahui secara pasti asal muasal penamaan Gunungsitoli. Tapi referensi yang saya temukan dari sebuah buku yang ditulis seorang pastor yang mendirikan Museum Pusaka Nias (saya lupa judulnya) disebutkan nama Gunungsitoli diberikan oleh para pedagang yang berasal dari Indocina daratan Asia. Kelak, para pedagang inilah yang disebut-sebut nenek moyang orang Nias.

Merujuk secara harfiah, jelas kata Gunungsitoli berasal dari kata Gunung dan kata Sitoli. Gunung berarti tanah yang tinggi (berbukit) dan Sitoli berasal dari nama orang yang berdiam di bukit dekat rumah sakit (daerah Onozitoli sekarang).

Kota Gunungsitoli Masa Kini

Setelah resmi menjadi kota otonom, Gunungsitoli yang dipimpin putra daerah yang juga pejabat karir Provinsi Sumatera Utara Drs. Martinus Lase, MSP, memiliki jumlah penduduk 125.495 jiwa dengan luas wilayah 469,36 km persegi. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sitolu Ori, Kabupaten Nias Utara. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Gido dan Kecamatan Hili Serangkai, Kabupaten Nias. Sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Hiliduho, Kecamatan Alasa Talumuzoi, dan Kecamatan Namohalu Esiwa. Sementara sebelah Timur berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia.

Terdapat 6 Kecamatan, antara lain Gunung Sitoli dengan 31 desa, Gunung Sitoli Alo’oa, 10 desa, Gunung Sitoli Barat, 9 desa, Gunung Sitoli Idanoi, 26 desa, Gunung Sitoli Selatan, 15 desa, dan Gunung Sitoli Utara, 10 desa. Karena baru dimekarkan dan pemerintahan baru ada sejak Penjabat Wali Kota dilantik, jangan heran masih ada status desa di Kota Gunungsitoli. Nantinya, secara bertahap statusnya diusulkan jadi Kelurahan. Saat ini baru ada 3 Kelurahan.

Kelahiran Kota Gunungsitoli tak lain adalah demi memacu kemajuan Provinsi Sumatera Utara pada umumnya dan Kepulauan Nias pada khususnya. Diresmikan sesuai UU No 47 tahun 2008, pembentukan Kota Gunungsitoli di wilayah Provinsi Sumatera Utara, barulah berumur dalam hitungan bulan.

Namun dengan penuh semangat, kota ini langsung melakukan gebrakan memutar roda pembangunan dan pemerintahan. Dan, sebagai landasan bertindak sekaligus pedoman melakukan berbagai program, telah ditetapkan sebuah visi yakni, ‘’Gunungsitoli Kota SAMAERI’’.

Dalam bahasa Nias, ini bermakna sebagai seorang ibu yang senantiasa mengayomi, memelihara, menuntun, tidak membiarkan anaknya terlantar apalagi sampai kelaparan. Bahkan secara terus menerus selalu siap mengawal perjalanan kehidupan anaknya menuju masa depan yang gilang-gemilang.

Berangkat dari pemahaman itulah, maka kata ‘’samaeri’’ diberi nafas guna membumikan dalam melakukan misi pemerintahan dan pembangunan Kota Gunungsitoli dengan uraian sebagai berikut: SA = Satukan langkah dan tekad, MA = Mandiri, E = Ekonomi kerakyatan, RI = Beriman.

Dengan demikian visi SAMAERI akan dilaksanakan melalui perumusan misi yaitu ‘’SAtukan langkah dan tekad mewujudkan kota Mandiri yang berbudaya, sejahtera dan berwawasan lingkungan, dengan penguatan program Ekonomi, pendidikan, kesehatan, pariwisata dengan dukungan masyarakat beRIman, yang takut akan Tuhan sehingga memperoleh curahan berkat berkelimpahan yang dapat dinikmati secara bersama-sama.’’

Sumut Expo 2009; Sebuah Kehormatan Gunungsitoli

Sebagai daerah otonom baru (DOB) di Provinsi Sumatera Utara, tentunya sebuah kehormatan bagi Kota Gunungsitoli dapat berpatisipasi dalam Sumut Expo 2009 yang dilaksanakan di Jakarta, tepatnya di Balai Kartini Expo pada 29 Oktober hingga 1 November 2009. Bagaimana tidak, Sumut Expo 2009 merupakan suatu perwujudan dalam menggambarkan citra dari Sumatera Utara (Sumut) sebagai tempat berwisata dan berbisnis yang aman dengan kekayaan dan keragaman potensi seni budaya maupun kekayaan alam.

Seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara mengikuti kegiatan ini dengan menampilkan beragam kekayaan yang dimiliki. Kota Gunungsitoli memamerkan antara lain, udang, sapu lidi hias (ezoi likhe), nampan (nyiru), miniatur rumah adat, minyak goreng (fanikha sami), VCO, sabun transparan dari minyak kelapa, dodol durian dan batu bara. Semua yang ditampilkan ini ada dan diproduksi di Kota Gunungsitoli.

Jika diamati secara saksama, apa yang dipamerkan Kota Gunungsitoli ini, maka jelas, arah pengembangan yang akan dilakukan ke depan. Paling tidak sektor perikanan (udang), sektor industri kerajinan (sapu lidi hias, nampan, tampi dan miniatur rumah adat), sektor perkebunan (VCO/minyak manis, Tuo Nifaru dan sabun transparan), serta sektor pertambangan (batu bara) bisa menjadi andalan.

Pun, apa yang dipamerkan tersebut tentu menjadi semacam tes pasar. Kira-kira mana yang paling mendapat perhatian pengunjung, termasuk pembaca tulisan ini. Nantinya, dari berbagai tanggapan dan komentar, bisa dijadikan bahan masukan dan akan dijadikan kajian untuk pengembangan selanjutnya oleh Pemerintah Kota Gunungsitoli.

Menurut seorang peneliti, teman diskusi saya, apapun yang hendak dilakukan asal didasari pada penelitian dan diniatkan secara tulus dan jujur, yakinlah bahwa dari Sumut Expo 2009 ini ada yang bisa menjadi andalan Kota Gunungsitoli. Tak peduli bahwa Gunungsitoli berumur belia, ataupun baru pertama kali ikut, pasti ada dampak positif untuk pengembangan dan kemajuan.

Satu hal yang juga membanggakan Kota Gunungsitoli dalam Sumut Expo 2009 adalah diberikannya kesempatan menampilkan tari penyambutan tamu kehormatan pada pembukaan dan tari Folaya pada hari berikutnya. Pada hari ketiga akan diadakan Nias Forum.

Sebagai Ono Niha, penulis berharap masyarakat Nias, khususnya asal Kota Gunungsitoli dimana saja berada, dapat memberikan kontribusi pemikiran melalui kunjungan ke stand Kota Gunungsitoli. Dengan keikutsertaan Kota Gunungsitoli dalam Sumut Expo 2009 ini, harapan untuk terus berkembang dengan sempurna harus selalu jadi landasan berbuat dan bertindak.

Terlebih secara geografis, kemajuan Kota Gunungsitoli bukan hanya milik masyarakat Gunungsitoli, melainkan ianya milik seluruh Ono Niha. Ini tak lain karena Kota Gunungsitoli merupakan pintu gerbang dan akses utama di Kepulauan Nias.

Baik dari sisi ekonomi, perdagangan, lalu lintas orang, pemerintahan atau politik, Kota Gunungsitoli menjadi barometer di Kepulauan Nias. Kota Gunungsitoli maju, maka dengan serta merta seluruh daerah yang ada di Kepulauan Nias akan maju pula. Mari, berikan apa yang Ono Niha bisa demi maju dan berkembangnya Tano Niha.
Saohagolo.
***

Tags:

Komentar ditutup.