Orang Nias Naik Haji

February 18th, 2009 · 7:21 am @ YPMN  - 

Dasril dan YusufMusim Haji tahun 1994, biasanya saya sering ambil posisi untuk shalat di pelataran Ka’bah. Karena ramainya ummat Islam yang shalat, sering juga saya kebagian shalat di lantai satu. Tapi kali ini menjelang Maghrib, saya bermaksud ingin shalat Maghrib di lantai tiga Masjidil Haram. Lantai ini beratapkan langit, terbuka lepas. Sewaktu mencari tempat yang enak untuk shalat, saya mendengar dua orang jama’ah asyik bicara menggunakan bahasa Nias. Saya sendiri sebagai putra Nias kelahiran Padang masih bisa mengerti kalau orang bicara bahasa Nias, hanya saja saya kurang fasih kalau bicara.

Penasaran ingin mengetahui siapa beliau ini, saya mendekat sambil mengucapkan : “Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumussalam”, jawab beliau dengan suara datar. Lalu saya ucapkan salam khusus orang Nias :”Yaahowu”! Oh, mereka kaget, dan bertanya : “Haniha ndraugo” (Siapa anda?). Saya jelaskan, kalau saya jamaah dari Jambi. “Saya keturunan Nias, kampung kami di Sogaeadu, tapi hingga kini (1994) saya belum pernah ke Nias”, kata saya menjelaskan. Kedua orang Nias tersebut adalah bapak Haji Harun Saleh dan bapak Haji Dasril Koto

Kami pun ngobrol, dan beliau menyebutkan ada delapan orang Nias yang naik Haji tahun ini. Beliau sebutkan nama-namanya, namun sekarang saya lupa karena tidak saya catat.

Sewaktu saya pertama kali ke Nias, pada saat saya menginjak usia 54 tahun, yaitu April 2006, setahun setelah Nias dilanda gempa 28 Maret 2005, saya teringat dengan pak Haji yang pernah bertemu di Masjidil Haram. Ba’da Maghrib, Pengurus Mushalla Madrasah Islamiyah memberikan kesempatan kepada saya untuk memperkenalkan diri. Sempat juga saya sebutkan, bahwa saya pernah bertemu dengan orang Nias yang naik haji tahun 1994, dan saya rindu sekali ingin shilaturrahim dengan beliau itu.

Waktu begitu singkat, tak lama berkumandang adzan menandakan waktu Isya masuk. Saya dibawa abang Basir Tandjung ke Mesjid Raya Al-Furqan Pasar Gunung Sitoli. Kedua rumah ibadah ini runtuh dilanda gempa dan menunggu uluran tangan ummat Islam untuk membangunnya kembali. Sungguh sebuah kejutan, saya bertemu kembali dengan orang yang saya rindukan tersebut, yaitu bapak Haji Dasril Koto.

Orang ramah dengan muka bersih ini, saudagar kaya pemilik Toko Mas Sriwijaya di Gunung Sitoli, menyusul Haji Harun Saleh, sahabatnya yang sama-sama naik haji dulu.

Bapak Haji Ali Yusri Ibrahim (Sekretaris YPMN) menyampaikan berita duka ini kepada saya sekitar jam 14:40. Haji Dasril Koto telah meninggal dunia hari Senin 16 Pebruari 2009 sekitar jam 10:00 meninggal dunia di Gunung Sitoli, Nias. Kemudian bapak Rusudin Zalukhu (Pengurus Mesjid A-Falah Tohia) juga menghubungi saya jam 19:50 membenarkan berita duka tersebut. Almarhum mengidap darah tinggi. Dikabarkan tekanan darahnya mencapai 280. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Doa kami mengiringi pak Haji Dasril Koto : Allahummaghfirlahu, warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa wasi’ madkhalahu wa akrim nuzuulahu (M Yusuf Sisus Lombu)

Tags: ,

Komentar ditutup.