“BUNGA YANG TERHEMPAS”, pertunjukan perdana teater Nasyiatul Aisyiyah Gunungsitoli

November 26th, 2008 · 6:59 am @ YPMN  - 

Gunung Sitoli, 25/Nop/2008. Ratusan pengunjung terpukau dan bahkan ada yang menetaskan air mata saat menyaksikan aksi putra-putri Nasiyatul Aisyiyah (NA)-Cabang Gunung Sitoli memerankan babak demi babak teater betema sosial yang berjudul “BUNGA YANG TERHEMPAS” .

Adegan Drama Bunga yang Terhempas NA 1

Disutradarai langsung oleh Ketua NA Cabang Gunung Sitoli Jeffrytha Farid, selain sebagai sutradara Ia juga merangkap sebagai penulis naskah. Rasa bangga dan kagum atas kemampuan putra-putri kader Muhammadiyah ini disampaikan langsung oleh Bapak Saiful yang memberikan sambutan mewakili undangan. Sambutan juga diberikan oleh Area Manajer PKPA-Nias Misran Lubis selaku pendukung terbentuknya Sanggar Teater Simbul Padi.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabuaten Nias, Bapak. H Sofian Datuk Sati dalam sambutannya salut dan terharu dengan kemampuan putra-putri Muhammadiyah. Selnajutnya beliau menyampaikan bahwa:

“Jika selama ini Dakwah disampaikan dalam bentuk Ceramah dan khutbah-khutbah di mimbar, tapi kali ini dakwah disampaikan melalui kreatifitas seni”

Bertempat di aula Kompleks gedung SD Muhammadiyah Jl. Karet-Gunung Sitoli pada hari Ahad (23/11/08), ratusan pengunjung menyaksikan pertunjukan teater perdanaini. Pihak penyelenggara terpaksa melakukan dua kali penampilan untuk memenuhi permintaan masyarakat. Putaran pertama dimulai pukul 10.30 -12.30 WIB dan putaran kedua pukul 15.00 – 17.00 WIB.

Cerita yang diangkat dalam teater ini mengisahkan perjalanan seorang anak perempuan bernama Lana yang masih berusia 15 tahun. Akibat sikap dan cara mendidik yang cenderung kasar terhadap anak-anaknya juga karena disibukkan dengan urusan kerja, orang tua Lana kurang memperhatikan kebutuhan kasih sayang kepada anak-anaknya, termasuk Lana. Akibatnya Lana sering bolos sekolah dan pergaulannya dengan teman laki-laki (pacar) bernama Reno telah melawati batas-batas kewajaran. Khawatir akan terjadi hal-hal yang memalukan, akhirnya kedua orang tua Lana dan Reno sepakat untuk menikahkan anak-anak mereka meski usianya masih sangat muda.

Adegan Drama Bunga yang Terhempas NA 2

Singkat cerita Lana pun hamil, ditengah perjalanan rumah tangganya Lana terus menderita, suami selalu bersikap kasar dan belum lagi tekanan bathin dari pihak keluarga laki-laki termasuk nenek Lana sendiri. Komplikasi derita Lana menyebabkan ia mengalami gangguan kehamilan dan terjadi pendarahan diusia 7 bulan kehamilannya. Lana dilarikan ke rumah bersalin, seorang bidan desa dan perawat berusaha membantu Lana menghadapi masa-masa kritis kelahiran prematur tersebut. Harapan untuk menyelamatkan Lana dan bayinya berbeda dengan Kehendak Tuhan, Lana dan bayinya tidak terselamatkan. Penyesalan orang-orang disekitar Lana tidak ada artinya, mereka hanya bisa menangis disekitar tubuh Lana yang terbujur kaku tak bernyawa.

Menurut sang penulis naskah sekaligus sutradara teater Jeffrytha, “cerita ini mengkampanyekan agar masyarakat menyadari bahwa terhadap pernikahan diusia muda sangat beresiko, karena organ reproduksinya masih sangat rentan untuk hamil dan melahirkan. Selain itu masyarakat terutama orang tua harus pandai-pandai mengawasi anak-anak remaja terutama pergaulan mereka sehari-hari, namun jangan memperlakukan anak dengan sewenang-wenang apalagi dengan kekerasan, mereka harus dididik dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang”. (Misran Lubis/PKPA-Nias)

Pimpinan Daerah Muhammadiyah bersama para pemain dan sutradara

Foto: Pimpinan  Daerah Muhammdiyah bersama para pemain dan sutradara “Bunga yang Terhempas”

Tags: ,

Komentar ditutup.